KOTA SERANG (bantenbersatu.co.id) – Angin kencang dan deburan ombak Samudra Hindia di pertengahan September 2026 rupanya menyimpan rahasia kelam dari sebuah tragedi yang terjadi di koridor Selat Sunda.
Teka-teki mengenai nasib para penumpang kapal cepat KM Arupadatu I yang hilang kontak sejak Senin, 7 September 2026 lalu saat menuju Gunung Anak Krakatau, perlahan mulai menampakkan titik terangnya yang pertama di tempat yang sama sekali tak terduga.
Sebuah pesan duka datang dari belahan utara, ratusan kilometer dari titik awal hilangnya komunikasi.
Sawang Bengkok, merupakan wilayah perairan pantai lepas di Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, menjadi pemberhentian terakhir bagi Surakman.
Pria paruh baya berusia 60 tahun asal Desa Sukajadi, Kecamatan Carita, Pandeglang, yang bertugas sebagai Anak Buah Kapal (ABK) tersebut ditemukan terdampar di antara hamparan karang tepi (fringing reef) yang tajam oleh nelayan tradisional setempat pada Sabtu sore, 12 September 2026.
Kondisi laut lepas yang ekstrem diduga telah menyeret tubuh Surakman keluar dari Selat Sunda, melintasi Pulau Sebesi, hingga terhanyut sejauh 380 kilometer.
Selama lima hari terombang-ambing di lautan, paparan air laut telah mengubah kondisi fisik dan merusak visual wajah korban, hingga menyulitkan proses identifikasi awal.
Tanpa selembar pun tanda pengenal yang melekat, warga pulau ter luar itu sempat memakamkannya secara anonim sebagai Mr. X di pemakaman umum setempat.
Namun, jalinan koordinasi yang cepat antara Polda Banten dan tim SAR orang hilang segera membuka tabir misteri tersebut.
Proses ekshumasi atau pembongkaran makam darurat dilakukan demi mengambil sampel DNA pascamematian (post-mortem).
Melalui konferensi pers di Mapolda Banten pada Rabu (23/9/2026), Kapolda Banten Irjen Pol Hengki bersama Gubernur Andra Soni mengumumkan hasil validasi ilmiah yang menyatakan sampel genetik jenazah berkode PM/62/P.Enggano/01 tersebut cocok 100 persen dengan sampel darah anak kandung korban, Yayan.
Kini, saat persiapan pemulangan jenazah menuju rumah duka di Carita sedang dilakukan, ingatan publik kembali dihentak bahwa perjuangan belum usai; masih ada tujuh pejuang informasi dan kru kapal lainnya yang keberadaannya masih sunyi di telan samudera. (Wisnu Bangun)
