BANTEN (localhost/bantenbersatu) – Kolaborasi DP3KB, PKK dan Para Ketua DWP se-Provinsi Banten bekerjasama dengan Universitas Indonesia (UI) Membuat Aplikasi E-Asuh.
Sasaran dari aplikasi ini, yakni para pengasuhan anak usia dini agar dapat tumbuh kembang dengan optimal agar menjadi anak yang sehat, cerdas dan ceria.
Kepala DP3B Provinsi Banten, Siti Maani Nina mengatakan, aplikasi tersebut merupakan bagian dari persiapan tentang cara pola asuh terhadap anak-anak sejak dalam kandungan dan seterusnya hingga setidaknya berusia dua tahun.
“Sehingga pertumbuhan Fisik anak, tinggi, berat badan ataupun lingkar kepala anak menjadi lebih kompleks,” tuturnya.
Menurut Nina, hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek, yakni dari mulai kemampuan anak dalam bicara, berkomunikasi, kemampuan motorik halus dan kasar.
Tidak hanya itu, tapi juga tentang kemampuan kognitif dan kemampuan personal social.
“Hal ini sangat penting dari mulai awal kehidupan anak tersebut. Sehingga betul-betul 1000 hari pertama kehidupan sianak merupakan pondasi dasar untuk kualitas sumber daya manusia unggul ke depannya,” tuturnya.
Tentang materi asu ini lanjut Nina, dapat dibuka oleh siapa saja, dapat dilaksanakan oleh siapa saja dan dapat diikuti oleh siapapun karena hal ini adalah cara pemerintah mengedukasi masyarakat tentang cara mengasuh anak berdasarkan hasil riset para akhli di bidangnya.
Sehingga ini betul-betul bisa dipertanggungjawabkan tentang tumbuh kembangnya setiap anak dan bisa di edukasi kepada ibu-ibu yang memang erat dalam mengasuh anak-anaknya.
Ditegaskan Nina, prihal hal asuh ini sangat penting, karena dari rahim seorang ibu sampai dengan anak usia 2 tahun adalah golden periode.
Hal tersebut bisa dilihat dari tinggi badan, perkembangan otak yang harus mencapai 80% dari otak orang dewasa jadi perlu dilakukan monitoring agar tidak terjadi hambatan.
Ini dapat terdeteksi, sehingga dapat ditahan, termasuk juga tanda-tanda disabilitas bicara sapaan, pertumbuhan dan sebagainya.
Hal lain yakni bagaimana mengawal tubuh dan kembang anak, agar menjadi sehat, cerdas dan ceria. “Ya aspek tumbuh kembangnya yang harus diperhatikan. Seperti dari aspek asuh, nutrisi, perilaku, lingkungan hidup bersih, sehat juga imunisasi dasar yang harus diterima setiap anak,” katanya.
Berkaitan dengan pemberian makanan tambahan nutrisi, lanjut Nina, salah satu yang penting adalah zat gizi yang terkandung dalam makanan dan minuman yang dibutuhkan anak sejak dalam masa kandungan.
“Kita tahu apa akibatnya kalau kekurangan nutrisi. Nah mungkin karena masyarakatnya stunting, yang ternyata salah satunya yang menghambat perkembangan otak anak-anak yang mengalami penurunan IQ dan kecerdasannya,” katanya.
Nina juga mengatakan, bila hal tersebut tidak diperhatikan akan berakibat terhambatnya perkembangan otak dan penurunan IQ bagi kecerdasan anak.
Bila ini terjadi pada akhirnya nanti anak tidak akan produktif, karena tidak bisa mengikuti perkembangan saat mengikuti pendidikan dalam mencapai masa depannya,” tutur Nina lagi.
Dia juga menyebutkan, bila hal-hal yang berkaitan dengan perbaikan pertumbuhan anak tidak diperhatikan sejak dini, maka berdampak kepada masa depannya.
Itulah sebabnya pemerintah secara terus-menerus melakukan edukasi kepada masyarakat untuk memerangi stunting.
Karena stunting itu adalah kondisi gangguan pertumbuhan pada anak yang ditandai dengan tinggi badan dan lebih pendek dibandingkan anak seusianya.
“Nah ini disebabkan oleh makhluk resik kronis infeksi berulang dan stimulasi yang kurang memadai terutama di 1000 hari pertama kehidupan. Jadi mulai dari kehamilan hingga anak berusia 2 tahun,” katanya.
Jadi yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak tergantung dari tentang bagaimana asupan menu, karbohidrat protein yang menjadi kebutuhan anak.
Hal lainnya tentang penyakit seperti diare, infeksi saluran pernapasan itu juga dapat menghambat penyerapan nutrisi aksesoritas yang buruk bagi anak-anak.
Misalkan tentang lingkungan yang tidak higienis, kurangnya perawatan kesehatan, bahkan minimnya akses ke fasilitas kesehatan atau imunisasi yang kurang. Hal itu juga berpengaruh terhadap perkembangan anak.
“Nah di sinilah pentingnya aplikasi ini untuk diketahui sebagai edukasi masyarakat mengenai permasalahan kesehatan dan kalau kita melihat dampak dari stunting itu apa dan seterusnya,” kata Nina.
Contohnya tentang perkembangan kognitif yang terganggu, sehingga anak yang cantik sering memiliki prestasi akademik yang lebih rendah.
Kurangnya asupan nutrisi yang baik akan berdampak kepada ketahanan tubuh sehingga rentan terhadap penyakit.
Melemahnya resiko ekonomi jangka panjang, cenderung berdampak kepada produktivitas kerja yang lebih rendah pada saat dewasa.
“Pencegahan stunting adalah cara pemerintah agar kita dapat melahirkan anak-anak dapat berkembang dengan baik,” tuturnya.
Umpamanya tentang edukasi memberikan gizi yang cukup selama kehamilan, protein, zat besi, asam folatnya dan juga memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama serta memberikan makanan pendamping ASI yang bergizi.
Setelahnya setelah enam bulan, lalu diberikan imunisasi lengkap dan pengobatan infeksi yang dilakukan di tempat-tempat layanan kesehatan.
Selain itu, melakukan pemeriksaan kesehatan yang ada di Posyandu untuk mengetahui tumbuh kembang anak di usia dini tersebut.
Selain itu, melalui aplikasi ini dapat dilihat beberapa hal penting yang memang harus diketahui oleh masyarakat khususnya. Termasuk mengidentifikasi perempuan dan anak.
“Termasuk juga sejauh mana efektivitas aplikasi ini dalam meminimalisir kasus tanding tersebut. Saya sampaikan ini adalah edukasi jadi edukasi,” katanya. (Adv/Red01)
