Laporan Jurnal Terbuka (Bagian 5)
LEBAK (bantenbersatu.co.id) – Masalah klasik mengenai mahalnya biaya operasional pertanian akibat rusaknya akses infrastruktur, kini berhasil diselesaikan secara nyata oleh Pemerintah Provinsi Banten.
Melalui pagu anggaran terarah Dinas PUPR Banten, pembangunan Jalur Usaha Tani (JUT) di wilayah Kecamatan Wanasalam dan Ciawi Hilir, telah rampung 100 persen.
Pengecoran poros jalan desa sejahtera ini, menjadi berkah yang dinanti-nanti oleh ribuan kepala keluarga petani yang menggantungkan hidup dari sektor perkebunan dan hortikultura.
Program “Bang Andra” hadir sebagai jawaban konkret atas jeritan masyarakat perdesaan, yang selama ini merasa terisolasi akibat ketimpangan pembangunan infrastruktur wilayah pinggiran.
Sebelum dilakukan intervensi pengecoran rigid beton, rute usaha tani di kawasan Wanasalam merupakan jalur tanah berbatu tajam yang dipenuhi genangan air setinggi lutut orang dewasa saat hujan.
Akses Sarana Produksi Tani Terbuka Lebar
Kondisi medan yang hancur tersebut membuat ongkos distribusi sarana produksi pertanian, terutama pupuk bersubsidi dan obat-obatan tanaman, menjadi sangat melambung tinggi.
Sutardi (42) mengaku banyak agen logistik maupun sopir mobil pikap angkutan barang yang menolak melakukan pengiriman langsung hingga ke gudang kelompok tani karena takut kendaraan mereka patah as.
“Adanya program Bang Andra ini, sebagai jawaban mimpi masyarakat untuk hidup sejahtra,” kata Sutardi.
Melihat urgensi yang sangat mendasar tersebut, Kepala Dinas PUPR Provinsi Banten, Arlan Marzan, S.T., M.T., bergerak taktis memerintahkan tim teknis untuk melakukan pengerasan permanen.
Penerapan standar mutu beton rigid menjadi pilihan mutlak agar struktur jalan tidak mudah amblas digerus beban kendaraan muatan sarana produksi pertanian yang berbobot berat.
“Ruh dari pembangunan jaminan Program Bang Andra ini adalah kemanfaatan ekonomi humanis yang bisa langsung dirasakan pada dompet masyarakat kecil,” tegas Arlan Marzan.

Dengan terbukanya akses jalan baru ini, wilayah yang dahulu dianggap sebagai zona merah distribusi kini telah terbuka lebar dan bebas dari hambatan transportasi.
Petani di Ciawi Hilir kini dapat memesan pupuk dan kebutuhan tani lainnya dengan sistem antar langsung sampai ke depan pintu rumah tanpa ada pungutan biaya tambahan.
Efisiensi Operasional Pertanian
Berdasarkan rekapitulasi data dan wawancara dengan tokoh tani setempat, penghematan pengeluaran biaya operasional pra-konstruksi dan pasca-konstruksi sangat terasa drastis.
Sebelumnya, petani harus mengeluarkan biaya ekstra sebesar Rp15.000 hingga Rp20.000 per karung pupuk hanya untuk ongkos angkut ojek tambahan dari jalan raya protokol.
Sekarang, setelah hamparan beton rigid putih terbentang mulus, pengeluaran logistik tambahan tersebut berhasil ditekan hingga menjadi nol rupiah karena truk agen bisa langsung masuk.
Tidak hanya menguntungkan sektor pertanian, mulusnya jalan usaha tani ini juga membawa dampak positif berantai pada sektor pendidikan dan mobilitas harian anak-anak sekolah.
Kendaraan angkutan pedesaan dan ojek pasar yang dahulu enggan melintas kini mulai ramai beroperasi melayani rute pemukiman pelosok Wanasalam hingga Ciawi Hilir.
Transparansi pencapaian performa fisik ini disajikan secara terbuka ke publik oleh PT Tinta Merah Mediatama melalui bantenbersatu.co.id sebagai wujud jurnalisme pembangunan yang akuntabel.
Pemerintah daerah optimis bahwa efisiensi operasional pertanian ini akan meningkatkan pendapatan bersih petani sekaligus menjaga stabilitas ekonomi perdesaan di Kabupaten Lebak. (Tim Jurnal)
