Berita Banten terkini, Update berita Banten, Peristiwa terbaru di Banten

Sisi Humanis Arif Agus Rakhman: Pejabat Banten yang Jaga Adab dan Sembunyikan Jabatan dari Anak

Oleh Wisnu Bangun

 

Di tengah stigma birokrasi yang sering dianggap kaku dan berjarak, sosok Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setda Provinsi Banten, Arif Agus Rakhman, S.IP., M.Si., hadir membawa warna yang berbeda.

Pria yang akrab disapa Arif ini dikenal luas sebagai figur yang meruntuhkan sekat-sekat formalitas antara pejabat dan masyarakat umum.

Dalam kesehariannya, Arif memiliki kebiasaan unik saat berbincang dengan orang-orang yang dianggapnya lebih dewasa. Ia selalu menyematkan sapaan “Kakak” sebagai bentuk hormat yang tulus kepada para seniornya—seumpama panggilan “Kak Uday” yang kerap ia ucapkan saat menyapa tokoh mumpuni seperti Uday Suhada.

Atau sebutan Kak Adek, untuk memanggil mantan wartawan TEMPO yang bernama Ade Hahajari yang bertugas lama di Provinsi Banten.

Tak hanya lewat kata-kata, adab santun itu ia tunjukkan lewat tindakan nyata.

Arif selalu mencium tangan saat bersalaman dengan orang yang lebih tua.

Ia tidak pernah memedulikan apakah orang tersebut seorang pejabat tinggi,  atau hanya masyarakat biasa dari golongan orang kecil.

Bagi Arif, menghormati orang lain adalah kewajiban yang melampaui sekat jabatan struktural.

Integritas Tanpa Kompromi, Birokrasi Tanpa Ribet

Rekam jejak Arif sebagai abdi negara sejatinya sudah teruji sangat panjang. Mengawali dedikasinya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) sejak Desember 2001, ia telah mengantongi berbagai pengalaman strategis di lingkungan Pemerintah Provinsi Banten.

Alumnus magister yang dikenal mumpuni ini bahkan sempat dipercaya mengemban amanah sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kominfo Provinsi Banten selama beberapa bulan.

Puncaknya pada akhir tahun lalu, Arif resmi dilantik oleh Gubernur Banten Andra Soni sebagai Kepala Biro Adpim Setda Provinsi Banten.

Pelantikannya yang mengacu pada SK Gubernur Banten Nomor 580 Tahun 2025 tersebut merupakan bagian dari langkah penyegaran birokrasi di tanah jawara.

Sebagai seorang pimpinan, Arif memegang prinsip yang tegas: integritas adalah harga mati.

Ia dikenal sangat konsisten menolak segala bentuk praktik menyimpang atau gratifikasi dalam setiap proses kerjanya.

Kendati demikian, ketegasannya tidak membuat alur kerja menjadi kaku.

Sebaliknya, Arif selalu memutar otak agar birokrasi di bawah komandonya berjalan dengan ringkas, mudah, cepat, dan sama sekali tidak berbelit-belit bagi siapa pun.

Ruang Kerja yang Selalu Hidup dan Dekat dengan Media

Keluwesan karakter pria kelahiran 5 Agustus 1977 ini membuat dirinya sangat dicintai oleh rekan sejawat dan mitra kerja, khususnya kalangan jurnalis.

Di sela-sela waktu luangnya yang padat, Arif kerap menyempatkan diri untuk singgah dan bercengkrama ria dengan para awak media di Sekretariat Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Harian Cetak dan Elektronik Pemprov Banten.

Suasana hangat itu juga selalu terasa di ruang kerja resminya.

Pintu ruangannya seolah selalu terbuka. Tidak hanya wartawan, sejumlah pegawai negeri hingga pejabat lintas instansi sering datang bertamu.

Alih-alih membahas urusan formal yang menegangkan, mereka kerap datang sekadar untuk berdiskusi ringan, bertukar pikiran, bahkan membawa makanan dari luar untuk dinikmati bersama-sama di meja kerjanya.

Di mata rekan-rekannya, Arif bukan sekadar pimpinan, melainkan sahabat karib yang sangat rendah hati.

Menjaga Kehangatan Keluarga di Rumah

Di balik sorot lampu jabatan publiknya, Arif memiliki garis batas yang tegas antara ruang kerja dan ruang keluarga.

Di rumah, ia kembali menjadi sosok pria bersahaja, mendampingi sang istri yang mendedikasikan hidupnya sebagai seorang dosen Bahasa Inggris di IAIN Banten.

Menariknya, hingga saat ini, Arif memilih untuk tidak menonjolkan atau memamerkan jabatannya sebagai seorang pejabat eselon di lingkungan Pemprov Banten kepada anak-anaknya.

Ia ingin anak-anaknya tumbuh dengan mengenal dirinya sebagai seorang ayah yang utuh dan penuh kasih sayang, bukan karena bayang-bayang status struktural atau kekuasaan birokrasi.

Semua laku hidup yang ia jalani, baik di kantor maupun di rumah, bermuara pada satu prinsip hidup bersahaja yang selalu ia pegang teguh sepanjang hayatnya.

“Saya gak pengen menjadi beban bagi siapa pun, menjalani tugas sebagaimana mestinya, dan sebisa mungkin membawa manfaat bagi banyak orang,” tutur Arif menutup bincang-bincangnya dengan penulis.

Related posts

What is lampshading? The leggy fashion trend, explained

bantenbersatu

DPRD Dukung Implementasi Smart City Pemkab Serang

bantenbersatu

SAS seasonal summer 2018 routes – 5 new destination & 27 new non-stop routes

bantenbersatu

Pemprov Banten Segera Bangun Gedung Rawat ODGJ Terpadu 8 Lantai di Walantaka

bantenbersatu

Tech News – BNZ flips switch on Apple Pay in New Zealand

bantenbersatu

Tinjau Curug Cimanggung, Gubernur Andra Soni Prioritaskan Infrastruktur Wisata Lewat Program ‘Bang Andra

bantenbersatu

Why you need a cheering squad in your fitness journey

bantenbersatu

iPhone 8 off to bumpy start with iPhone X in the wings

bantenbersatu

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Serang Soroti Imbauan Ketua PCNU Soal Pilkada, Diduga Tendensius

bantenbersatu