Berita Banten terkini, Update berita Banten, Peristiwa terbaru di Banten

Pelayaran Terakhir Sang Pelaut: Perintah Presiden dan Doa Lintas Daerah Antar Pulang Surakman

Prosesi resmi serah terima dan penghormatan terakhir jenazah Surakman kru KM Arupadhatu I oleh jajaran otoritas dan pejabat daerah di bandara.
Prosesi pelepasan dan penghormatan terakhir secara resmi untuk almarhum Surakman di area kargo bandara, menandai rampungnya misi pemulangan kemanusiaan yang digerakkan oleh negara.

Oleh: Wartawan Senior, Wisnu Bangun

KOTA SERANG (bantenbersatu.co.id) – Akhir pilu sekaligus haru menyelimuti kepulangan Surakman (60), kru kapal cepat KM Arupadhatu I yang sempat dinyatakan hilang kontak di Selat Sunda sejak awal September.

Setelah terombang-ambing di tengah ganasnya samudra lepas dan terbawa arus laut sejauh lebih dari 300 kilometer, jasad sang pelaut akhirnya menapakkan kaki di tanah kelahirannya melalui sebuah operasi kemanusiaan besar yang menggerakkan simpul tertinggi negara hingga ketulusan hati rakyat biasa.

Tetesan Air Mata Gubernur dan Malam Terakhir di PasauranDi tingkat daerah, Gubernur Banten Andra Soni sempat menitikkan air mata tak kala diketahuinya rombongan wartawan yang sempat bercanda ria dan berdiskusi hangat bersamanya malam tadi kini hilang kontak.

Peristiwa ini terasa sangat personal bagi sang Gubernur.

Kurang dari 24 jam sebelum musibah terjadi, Andra Soni masih bertukar pikiran, tertawa, dan membedah isu bersama lima jurnalis tersebut di Pos Pantau Pasauran, Kabupaten Serang.

Tiada yang mengira, canda tawa di bawah bayang-bayang erupsi itu menjadi memori terakhir yang tersisa.

Petaka di Selat Sunda ini bermula pada Senin, 7 September 2026.

Sekitar pukul 14.00 WIB, kapal cepat KM Arupadhatu I bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk mengantar para jurnalis meliput aktivitas vulkanik.

Manifes kapal mencatat lima jurnalis tangguh—M. Bagus Khoirunnas (ANTARA), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudhistiro (iNews), Firdaus (Anadolu), dan Donal (jurnalis lepas)—didampingi tiga awak kapal termasuk Surakman.

Komunikasi terputus sepenuhnya setelah kontak terakhir tercatat pada pukul 18.13 WIB.

Dalam sekejap, ombak besar dan kegelapan Selat Sunda menelan keberadaan mereka dari radar kehidupan.

Perintah Istana dan Kegentingan di Samudra

Tragedi ini langsung mengetuk pintu Istana Negara.

Presiden RI Prabowo Subianto memerintahkan secara langsung seluruh jajaran Basarnas, TNI Angkatan Laut, dan Polri untuk melakukan evakuasi dan pencarian secara segera tanpa menunda waktu.

Perintah tegas Panglima Tertinggi itu diterjemahkan oleh tim SAR gabungan di lapangan sebagai sebuah tugas kemanusiaan yang sangat genting.

Respons cepat ini membuahkan keputusan besar berupa penambahan durasi operasi pencarian yang semula berdasarkan protokol standar hanya berlangsung 7 hari, diperpanjang hingga masuk ke hari ke-10 dan seterusnya.

Negara memilih melipatgandakan batas waktu demi menyisir sisa-sisa harapan di wilayah perairan terluar Indonesia.

Tersangkut di Mangrove Pulau TerluarKetegasan operasi negara dan keteguhan doa itu menemui titik terang tepat lima hari setelah kabar hilang kontak.

Pada Sabtu, 12 September 2026, garis takdir menuntun raga Surakman terdampar hingga ke pesisir Pantai Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Pulau Enggano, Bengkulu Utara.

Di pulau terluar yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia itu, seorang nelayan tradisional yang hendak melaut tertegun.

Di antara deburan ombak, ia melihat sesosok jasad terombang-ambing dalam posisi tersangkut di antara celah batu karang dan ranting mangrove pesisir.

Melihat kondisi memprihatinkan dari tubuh yang berhari-hari dihantam garam laut, sang nelayan memanggil warga desa.

Karena ditemukan tanpa identitas dan kondisi wajah yang sudah sulit dikenali, warga dengan penuh kehati-hatian melepaskan jasad yang tersangkut.

Hanya berjarak beberapa ratus meter dari bibir pantai tempatnya ditemukan, jasad Mr. X—yang kelak teridentifikasi sebagai Surakman—dimakamkan secara darurat oleh warga pulau demi alasan kemanusiaan dan higienitas.

Menggedor Pintu Langit dalam Sunyi

Bagi keluarga di Carita, hari-hari pasca-hilang kontak adalah waktu yang berjalan begitu lambat dan menyiksa.

Setiap riak ombak yang menghantam pesisir Pandeglang seolah membawa bisikan tanya yang tak kunjung terjawab.

Namun di tengah ketidakpastian yang pekat, sebuah mukjizat kemanusiaan pelan-pelan tumbuh.

Tidak saja pihak keluarga yang menangis dalam doa, tetapi banyak warga lain yang sama sekali tak mengenal korban dari berbagai daerah ikut tergerak.

Di media sosial hingga musala-musala kampung lintas wilayah, mereka bersama-sama menggedor pintu langit, menggelar doa bersama secara spontan agar para awak kapal mendapatkan jalan pulang terbaik.

Ikatan batin antarorang asing yang tak saling kenal inilah yang menjadi energi tak kasat mata, mengiringi penemuan makam darurat Surakman.

Ujian Batin di Liang Lahat Enggano

Kepastian itu akhirnya datang.

Setelah pengujian DNA dari sang anak, Yayat, di Jakarta menunjukkan kecocokan genetik yang mutlak, Tim Kedokteran Forensik (DVI) Biddokkes Polri bergerak cepat melakukan proses pembongkaran makam (ekshumasi) di Pulau Enggano.

Menyaksikan tanah merah yang mendekap sang ayah digali kembali menjadi ujian batin terdalam bagi Yayat.

Menyaksikan peristirahatannya diusik adalah kepedihan, namun demi selembar kepastian dan hak almarhum untuk pulang secara terhormat, air mata itu ditahannya erat-erat di samping garis polisi.

Diiringi untaian doa bersama tokoh agama setempat, petugas menggali tanah secara manual, lalu beralih menggunakan tangan kosong saat mendekati papan lahat untuk menjaga keutuhan jasad.

Usai diangkat, tim forensik langsung melakukan pemeriksaan akhir dan dekontaminasi disinfektan berlapis guna mematikan bakteri pembusukan sebelum dimasukkan ke dalam peti.

Menembus Langit Menggunakan Dua ArmadaPerjalanan udara dari pulau terisolasi menuju ibu kota memerlukan penanganan logistik yang ketat demi memenuhi regulasi penerbangan sipil.

Tahap pertama, jenazah Surakman dievakuasi dari Pulau Enggano menuju Kota Bengkulu menggunakan pesawat perintis Cessna 208 Caravan milik maskapai swasta Susi Air, armada satu-satunya yang membelah langit pulau terluar tersebut.

Setibanya di RS Bhayangkara Bengkulu, pemulasaraan ketat dilakukan.

Jasad dimasukkan ke dalam peti kayu tebal khusus penerbangan sipil (incofin) yang dilapisi seng di bagian dalam, dilem silikon di setiap sela agar kedap udara, serta dibungkus plastik wrapping berlapis.

Tahap kedua, pada Kamis (24/9/2026), peti jenazah diterbangkan menggunakan pesawat komersial reguler menuju Jakarta dengan dikawal langsung secara kedinasan oleh Kabid Dokkes Polda Bengkulu.

Kepulangan yang Agung di Terminal Kargo.

Sementara burung besi menembus awan, atmosfer haru telah mengkristal di Posko Terpadu Terminal Kargo Domestik Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Sejak dua jam sebelum jadwal mendarat, Gubernur Banten Andra Soni bersama Kapolda Banten (Irjen Pol Hengki) berdiri mendampingi Yayat, anak kandung almarhum.

Di sudut terminal kargo yang bising oleh deru mesin, ketegangan berminggu-minggu di wajah Yayat akhirnya pecah menjadi tangis kelegaan yang lirih saat peti jenazah diturunkan dari manifes pesawat.

Kepulangan ini memang berselimut duka, namun bagi seorang anak, mengetahui bahwa jasad sang ayah tidak tersesat selamanya di dasar Samudra Hindia adalah sebuah jawaban paling agung dari Tuhan.

Upacara resmi “Serah Terima Jenazah Korban Kecelakaan Laut” pun digelar secara khidmat di area kargo bandara sebelum peti dipindahkan ke ambulans.

Restu Tertinggi Seorang Pelaut

Bagi komunitas nelayan di pesisir Carita, kepulangan Surakman bukan sekadar kembalinya sebuah jasad, melainkan sebuah kepatuhan pada adat laut.

Rekan-rekan sesama pelaut tradisional di dermaga Pagedongan telah bersiap menyambutnya dengan ritual doa senyap.

Di tanah Banten, laut menghidupi mereka, dan ketika laut meminta raga seorang pelaut, kepulangannya ke pelukan tanah kelahiran adalah restu tertinggi yang melengkapi lingkaran takdir seorang pelaut sejati.

Tepat setelah dokumen administrasi bandara rampung, mobil ambulans melaju membelah jalanan menempuh jarak 150 kilometer menuju rumah duka di Desa Sukajadi, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang.

Guna menembus jalur arteri Anyer–Carita yang padat, armada pengawal (escort) dari Ditpolairud Polda Banten dikerahkan secara ketat untuk memangkas waktu tempuh menjadi sekitar 3,5 jam.

Ambulans yang melaju di bawah kawalan lampu rotator biru malam itu membawa pesan yang lebih besar dari sekadar akhir sebuah pencarian.

Dari instruksi tegas di meja Istana Presiden, tetesan air mata sang Gubernur, keteguhan hati seorang anak di liang lahat Enggano, hingga ketulusan doa warga asing yang tak saling kenal, semuanya bermuara pada satu penegasan: negara dan kemmanusiaanানুsiaan tidak pernah meninggalkan pelautnya tersesat sendirian di tengah samudra.

Surakman kini telah pulang, menyelesaikan pelayaran terakhirnya dengan terhormat.

Related posts

Sekda Kabupaten Tangerang Tekankan 4 Percepatan Program Kesehatan Prioritas

bantenbersatu

Dinas Sosial Kota Tangerang Gelar Pembinaan WKSBM, Sasar KSM se-Kota Tangerang

bantenbersatu

Diam-diam Tinjau Jalan Rusak, Bupati Serang Ratu Zakiyah Desak DPUPR Segera Dibangun

bantenbersatu

Bupati Tangerang Pimpin Doa Bersama Untuk Kelancaran Proses Pemadaman dan Keselamatan

bantenbersatu

Jamin Keamanan Malam Hari, Dirsamapta Korsabhara Baharkam Polri Gelar Patroli Dialogis Gabungan di Gunung Putri

bantenbersatu

Kesbangpol Kabupaten Serang Beri Pembinaan Organisasi Pers

bantenbersatu

Buka Diseminasi Statistik Sektoral 2025, Bupati Perintahkan Akselerasi Pemerintahan Digital Berbasis Data Terpadu

bantenbersatu

Kunjungi Pulau Tunda, Bupati Ratu Zakiyah Percepat Delegasi Tiongkok Investasi di Kabupaten Serang

bantenbersatu

Gubernur Andra Soni Bertekad Kuatkan Ekonomi Kreatif

bantenbersatu