JAKARTA (bantenbersatU) – Jumlah pengikut (followers) di akun Instagram pengacara Hotman Paris Hutapea dilaporkan anjlok drastis dengan kehilangan puluhan ribu pengikut setiap harinya.
Penurunan tajam ini terjadi menyusul perseteruan panas dirinya dengan kalangan jurnalis pada Jumat (17/7/2026) lalu.
Berdasarkan data pelacak statistik media sosial Social Blade, akun Instagram resmi @hotmanparisofficial yang semula memiliki 9,8 juta pengikut, kini merosot ke angka 9,7 juta hanya dalam kurun waktu akhir pekan kemarin.
Pengurangan puluhan ribu pengikut secara instan ini otomatis memukul nilai komersial dari akun tersebut.
Bagi seorang kreator konten atau mega-influencer, basis pengikut di angka hampir 10 juta merupakan aset digital yang sangat bernilai tinggi.
Murni dari aktivitas endorsement, akun dengan skala ini mampu meraup pendapatan bersih sekitar Rp50 juta hingga ratusan juta rupiah setiap bulannya.
Kehilangan basis massa digital secara masif berarti Hotman harus merelakan potensi perputaran uang tunai yang sangat menjanjikan dari para pengiklan.
Penurunan drastis ini dipicu oleh kemarahan publik yang mengalir deras di kolom komentar sejak Sabtu (18/7/2026).
“Dulu abang besar karena sering diliput wartawan, sekarang setelah sukses malah merendahkan profesi mereka. Sungguh lupa diri, langsung saya unfollow!” tulis salah satu akun di platform X
Gelombang pemutusan pertemanan digital ini terus bergulir sebagai bentuk sanksi sosial dari masyarakat.
“Baru saja cek, pengikutnya turun drastis. Ini bukti netizen tidak tinggal diam kalau profesi jurnalis direndahkan,” seru netizen lain di kolom komentar Instagram milik X.
Di tengah jalannya analisis pasar digital ini, jika tren penurunan pengikut terus berlanjut tanpa ada pemulihan citra, pengacara berdarah batak ini berpotensi kehilangan kepercayaan dari berbagai merek besar yang selama ini bekerja sama dengannya.
Dampak finansial dari dunia maya ini berisiko menjadi semakin melebar apabila tidak segera dimitigasi dengan baik.
Namun, rontoknya rupiah di media sosial ternyata hanyalah puncak gunung es dari kerugian yang dihadapi sang pengacara.
Sebab, badai boikot digital ini kini mulai merembet ke dunia nyata dan mengancam kontrak-kontrak kerja sama komersial bernilai nyata dan mengancam kontrak-kontrak kerja sama komersial bernilai miliaran rupiah dengan industri raksasa nasional. (Wisnu Bangun)
