SERANG (bantenbersatu.co.id) – Informasi meteorologi menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung kesiapsiagaan menghadapi potensi aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK).
Hal tersebut menjadi salah satu materi pembahasan dalam Rapat Koordinasi Awal Kesiapsiagaan Mitigasi Bencana Gunung Anak Krakatau Tahun 2026 yang dipimpin Danrem 064/Maulana Yusuf Brigjen TNI Daru Cahyadi Soeprapto, S.Sos., M.M., di Aula Baluwarti Makorem 064/MY, Serang, Rabu (8/7/2026).
Dalam paparannya, Kasi Analisis dan Prakiraan Stasiun Meteorologi Kelas I Maritim Merak, Trian Asmarahadi, S.Tr., menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah Provinsi Banten telah memasuki musim kemarau dengan puncaknya diprakirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.
Kondisi ini berpotensi memperluas penyebaran abu vulkanik apabila terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau.
Minimnya curah hujan menyebabkan abu vulkanik dapat bertahan lebih lama di atmosfer, sementara arah dan kecepatan angin berpotensi membawa sebarannya ke wilayah yang lebih luas.
Akibatnya, kualitas udara dapat menurun, jarak pandang berkurang, serta aktivitas transportasi, khususnya penerbangan, berpotensi terdampak.
Selain itu, informasi meteorologi, klimatologi, dan oseanografi berperan penting dalam memprediksi arah penyebaran abu vulkanik, mendukung sistem peringatan dini, serta menjadi dasar pengambilan keputusan bagi pemerintah dan instansi terkait dalam penanganan bencana.
Materi yang disampaikan menjadi bagian penting dalam pembahasan Rapat Koordinasi Awal Kesiapsiagaan Mitigasi Bencana Gunung Anak Krakatau yang digelar Korem 064/Maulana Yusuf.
Melalui forum tersebut, seluruh pemangku kepentingan memperkuat koordinasi dan menyusun langkah mitigasi secara terpadu guna meningkatkan kesiapsiagaan serta meminimalkan risiko terhadap masyarakat.
Sumber : Penrem 064/MY.(Red03)
